Advertisement

SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA







Berita Terkini dari ANTARA

  • Benarkah ada “wartawan amplop?”


    Begitu reformasi digelindingkan dan era wadah tunggal wartawan berakhir, bukan hanya media atau wartawan yang jumlahnya berlipat. Organisasi ke-wartawan-an pun muncul di mana-mana. Ada yang dibangun secara serius dan profesional. Ada pula yang didirikan dengan motif yang boleh dibilang jauh dari upaya untuk meningkatkan citra baik wartawan.


    Wadah wartawan yang disebut terakhir, memang tidak bergema luas. Namun, biasanya keberadaan mereka dikenali lewat sikap anggotanya saat melakukan peliputan di lapangan. .

    Dalam menjalankan "tugas jurnalistiknya, mereka bersama-sama, sekitar enam hingga delapan orang. Yang biasa mereka datangi adalah acara-acara yang berpotensi membagi-bagikan amplop, seperti peresmian kantor atau peluncuran produk baru.

    Mereka juga kerap bergerilya dari satu acara ke acara lain yang digelar di hotel-hotel berbintang.


    Untuk mendapat amplop, bila datang di suatu acara, acap kali mereka membuat daftar hadir dari kelompok mereka. Daftar itu kemudian disodorkan ke panitia dengan harapan panitia menyediakan amplop kepada sejumlah nama yang telah tertera. Jika acara sudah selesai, tapi belum juga diberi amplop, mereka sabar menunggu berlama-lama.


    Sumber Independen mengatakan, jika panitia mengatakan tidak ada acara bagi-bagi amplop, mereka tidak segan untuk mengancam


    Pada dasarnya mereka memburu pejabat atau pengusaha bermasalah untuk kemudian bergaining. Mereka biasanya mengetahui adanya orang-orang bermasalah tersebut melalui media massa atau bocoran dari orang-orang terdekat dari sasaran. “Biasanya mereka memilih-milih sasaran yang akan dijadikan korban.


    Setelah menentukan sasaran korban, mereka akan mendatangi calon korban secara bersama-sama dengan menggunakan mobil. Kemudian melakukan berbagai cara, termasuk dengan sedikit orientasi mengancam, yang pada akhirnya untuk mendapatkan sejumlah uang.


    Bila uang itu sudah berada di tangan, biasanya dibagi-bagi secara merata. Tidak jarang, hasil tersebut sebagian diberikan kepada sesama dan terkadang “ makan sendiri”

0 komentar:

Leave a Reply

Jangan ikuti Nafsu duniawi, katakan Anda "Anti Korupsi".

Saya : Kamu tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini?

NN : Tidak tahu... apaa..?

Saya : KORUPTOR bajingan yang sedang buka Blog ini

NN : " Gerrrrrrrr...."

“ Yang paling penting untuk memulai memberantas korupsi di Indonesia adalah Moral dan Mental anda. Percaya atau tidak percaya, sekali BAJINGAN tetap BAJINGAN. Negara ini akan melepaskan diri dari jajahan korupsi, bila pahlawan yang akan membebaskan itu, adalah kita masyarakat yang tidak BAJINGAN” .

( ALFRIN C.P SIREGAR )