Advertisement

SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA







Berita Terkini dari ANTARA

  • Memberi Ruh pada Berita


    MANUSIA

    Setiap fotografer tahu bahwa gambar yang tidak menyertakan unsur kehidupan seperti manusia hanya akan berakhir nasibnya di keranjang sampah. Begitu pula dengan tulisan. Pembaca suka membaca tentang manusia

    lainnya. Mereka kurang berminat pada isu dan gagasan. Mereka lebih terpukau pada pribadi-pribadi. Jika kita bisa menampilkan sebuah wajah pada kisah rumit yang jarang diikuti pembaca, pembaca akan terpikat membacanya dan sekaligus memperoleh informasi.

    TEMPAT

    Pembaca menyukai sense of place. Kita bisa membuat tulisan lebih hidup jika kita bisa menyusupkan sense of place yang kuat. Misalnya: seperti apa lokasi tempat terjadinya pembunuhan itu, bagaimana suasana di balik panggung pertunjukan?

    INDERA

    Kita harus berupaya untuk menyentuh indera pembaca. Membuat mereka melihat cerita dalam detil visual yang kuat. Dan dalam konteks yang tepat, juga membuat mereka mendengar, meraba, merasakan, membaui dan mengalami.

    IRAMA

    Tulisan yang monoton bisa dibantu dengan perubahan irama di dalam

    naskah. Anekdot, kutipan, sebuah dialog pendek atau sebuah deskripsi dapat mengubah irama agar pembaca bisa terikat sepanjang cerita dan membuat tulisan itu lebih hidup.

    WARNA DAN MOOD

    Kamera televisi dapat menampilkan pemandangan yang sesungguhnya, dalam warna dan detil. Penulis tidak dapat menyajikan pemandangan dengan mudah, sehingga mereka harus berusaha keras untuk melukis dalam pikiran pembaca.

    Warna meliputi: citarasa, suara, bau, sentuhan dan rasa. Dan tentu saja sesuatu yang dapat dilihat: gerakan usapan, detil pakaian, rupa, perasaan. Warna bukan hanya sekedar kata sifat tetapi merupakan totalitas dari sebuah pemandangan.

    Dengan menggambarkan warna, berarti Anda juga menceritakan tentang suasana (mood). Bahagia? Penuh emosi dan ketegangan? Sering hal semacam ini memberikan ketajaman perasaan terhadap cerita ketimbang bagian lain yang Anda tulis.

    ANEKDOT

    Anekdot adalah sebuah kepingan kisah singkat sepanjang satu hingga lima alenia: ''cerita dalam cerita''. Anekdot umumnya menggunakan seluruh teknik dasar penulisan fiksi (narasi, karakterisasi, dialog, suasana) untuk mengajak pembaca melihat cerita secara langsung seperti mereka berada di tempat kejadian.

    Anekdot sering dipandang sebagai ''permata'' dalam cerita. Penulis yang piawai akan menaburkan permata itu di seluruh bagian cerita, bukan mengonggokkannya di satu tempat.

    HUMOR

    Humor adalah bentuk ekspresi yang paling personal. Berilah pembaca sebuah senyuman, dan mereka akan menjadi sahabat Anda sepanjang hari. Dan buatlah mereka menanti tulisan Anda esok harinya. Tapi hati-hati dengan humor yang tak bercita-rasa.

    PANJANG-PENDEK

    Makin pendek cerita makin baik. Kisah akan lebih hidup jika awalnya berdekatan dengan akhir (klimaks), sedekat mungkin. Alenia dan kalimat perlu bervariasi dalam panjang. Letakkan kalimat dan alenia pendek pada titik kejelasan terpekat atau tekanan terbesar.

    KUTIPAN

    Kutipan dalam tulisan berita memberikan otoritas. Siapa yang mengatakannya? Seberapa dekat keterlibatannya dengan sesuatu peristiwa dan masalah? Apakah kata-katanya patut didengar? Kutipan juga memberikan vitalitas karena membiarkan pembaca mendengar suara lain selain penuturan si penulis.

    DIALOG

    Perangkat ini jarang digunakan dalam koran atau majalah berita. Tapi, bisa menjadi wahana yang efektif untuk menghidupkan cerita. Dalam meliput sebuah siding pengadilan, misalnya, atau mendiskusikan permainan dengan para atlet olahraga tertentu, kita bisa menghidupkan cerita dengan membiarkan pembaca mendengarkan para partisipan berbicara satu sama lain.

    SUDUT PANDANG

    Kita bisa membuat sebuah cerita biasa menjadi hidup dengan mengubah sudut pandang. Cobalah untuk melihat inflasi misalnya, dari sudut pandang seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari harus mengatur anggaran keluarga.

    IDENTIFIKASI

    Sebuah tulisan akan lebih hidup jika pembaca merasa dilibatkan dalam cerita dan membuat mereka mengerti mengapa sebuah masalah bermanfaat untuk mereka ketahui. Secara insidental, pembaca paling mudah mengidentifikasikan diri jika cerita ditulis dalam bentuk orang ketiga-- cara kebanyakan fiksi ditulis.

    BERTUTUR

    Tulisan yang hidup memiliki irama dan nada berbincang yang baik. Memiliki suara. Kita bisa menghidupkan cerita yang membosankan dengan menulis sesuatu seperti kita sedang membicarakan sesuatu kepada seorang pembaca, dengan bahasa dan ungkapan keseharian yang kita pakai untuk berbicara.
    Tidak pernah ada yang benar-benar "privat"/"individu" dalam kehidupan ekosistem maupun sosial. Kecuali jika Anda hidup sendirian di pulau terpencil.

    Tapi, tentu saja, alam mengajarkan kepada kita tentang pentingnya keragaman, dalam hal tertentu individualitas. (Bunga mawar berbeda dengan cacing atau burung pelikan). Pertanian monokultur, yang menonjolkan keseragaman dan mengorbankan keragaman, gagal karena melawan hukum alam.

    Menjaga identitas individu di tengah kehidupan kolektif (bersama) karenanya merupakan urusan yang tricky, subtil dan rawan. Tapi, saya kira kuncinya adalah kesimbangan. Kita bisa menuntut hak individual untuk melakukan apa saja, namun pada saat yang sama perlu bersedia mengendalikan individualitas demi kehidupan bersama yang masuk akal.

0 komentar:

Leave a Reply

Jangan ikuti Nafsu duniawi, katakan Anda "Anti Korupsi".

Saya : Kamu tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini?

NN : Tidak tahu... apaa..?

Saya : KORUPTOR bajingan yang sedang buka Blog ini

NN : " Gerrrrrrrr...."

“ Yang paling penting untuk memulai memberantas korupsi di Indonesia adalah Moral dan Mental anda. Percaya atau tidak percaya, sekali BAJINGAN tetap BAJINGAN. Negara ini akan melepaskan diri dari jajahan korupsi, bila pahlawan yang akan membebaskan itu, adalah kita masyarakat yang tidak BAJINGAN” .

( ALFRIN C.P SIREGAR )